VINI, AMALIA DIBA BR. SEMBIRING (2022) EFEKTIVITAS EKSTRAK MENGKUDU DAN MIMBA PADA BERBAGAI KONSENTRASI UNTUK MENGENDALIKAN ANTRAKNOSA PADA BUAH CABAI MERAH PASCA PANEN. S1 thesis, Universitas Malikussaleh.
|
Text
BISMILLAH_SKRIPSI_CD_Fix-1.pdf Download (10kB) |
|
|
Text
BISMILLAH_SKRIPSI_CD_Fix-6.pdf Download (6kB) |
|
|
Text
BISMILLAH_SKRIPSI_CD_Fix-15-17.pdf Download (130kB) |
|
|
Text
BISMILLAH_SKRIPSI_CD_Fix-43-46.pdf Download (139kB) |
|
|
Text
BISMILLAH_SKRIPSI_CD_Fix.pdf Restricted to Registered users only Download (922kB) |
Abstract
RINGKASAN VINI AMALIA DIBA BR. SEMBIRING. Efektivitas Ekstrak Mengkudu dan Mimba pada berbagai konsentrasi untuk Mengendalikan Antraknosa pada Buah Cabai Merah Pasca Panen oleh KHAIDIR dan USNAWIYAH. Tanaman cabai merah termasuk tanaman semusim dan tergolong ke dalam suku Solonaceae. Kendala dalam proses budidaya dan pasca panen pada tanaman cabai merah ialah produk yang dihasilkan tidak mampu bertahan lama dan memiliki sifat yang mudah rusak (perisable) oleh pengaruh lingkungan simpan. Kehilangan pascapanen dapat mencapai 10 – 30% dari total produksi, bahkanpada beberapa produk yang mudah rusak kehilangan pascapanen dapat mencapai lebih dari 50%. Kerusakan mikrobiologis/biologis diakibatkan oleh serangan patogen antara lain cendawan (mikroba) yang menjadi sumber penyakit pada berbagai jenis buah. Ekstrak buah mengkudu mampu menekan pertumbuhan cendawan Colletotrichum capsici secara in-vitro. Selain mengkudu salah satubahan pestisida nabati yang sering dan banyak digunakan saat ini ialah tanaman mimba. Tanaman ini sering digunakan dan dipercaya masyarakat sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit pada manusia. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Maret sampai dengan Juni 2022. Penelitian ini menggunakan pengujian secara in-vitro dan in-vivo dengan menggunakan RAL faktorial dengan 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama ialah jenis ekstraksi dan faktor kedua ialah jenis konsentrasi. Penelitian ini terdiri dari sterilisasi, pembuatan media potato Dextrose Agar (PDA), isolat cendawan Colletotrichum capsici,pemurnian dan pembuatan ekstrak. Hasil pengujian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun mimba lebih berpotensi dalam menghambat daya pertumbuhan diameter koloni yaitu sebesar 92,00% pada konsentrasi 25 ml. Pengujian yang dilakukan secara in vivo juga membuktikan bahwa dari kedua ekstrak yang lebih berpotensi untuk dijadikan fungisida nabati adalah ekstrak daun mimba pada konsentrasi 25 ml, kemudian ekstrak daun mimba pada konsentrasi tersebut mampu menurunkan tingkat kejadian penyakit sebasar 3,33% dan keparahan penyakit 12,50%, serta penurunan susut berat buah cabai berkisar 41,87% dengan masa inkubasi yang paling lama yaitu 3,13 hari. sehingga dapat dimpulkan bahwa ekstrak daun mimba berpotensi sebagai fungisida nabati dalam pengendalian penyakit antraknosa pada cabai. Kata kunci: Ekstrak daun mimba dan mengkudu, Colletotrichum capsici, cabai merah, antraknosa, konsentrasi
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) |
| Divisions: | Fakultas Pertanian > 54211 - Jurusan Agroekoteknologi |
| Depositing User: | Khairiati Khairiati |
| Date Deposited: | 09 Feb 2026 07:50 |
| Last Modified: | 09 Feb 2026 07:50 |
| URI: | https://rama.unimal.ac.id/id/eprint/18172 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |




