NELVIANA, NELVIANA (2025) TRADISI MANGUPA-UPA DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT MANDAILING DI SUMATERA BARAT (Studi Kasus di Simpang Tolang Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat). S1 thesis, Universitas Malikussaleh.
|
Text
COVER NELVIANA.pdf Download (50kB) |
|
|
Text
ABSTRAK NELVIANA.pdf Download (13kB) |
|
|
Text
BAB 1 NELVIANA.pdf Download (22kB) |
|
|
Text
DAPUS NELVIANA.pdf Download (12kB) |
|
|
Text
Skripsi NELVIANA.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan secara mendalam tahapan-tahapan pelaksanaan tradisi Mangupa-upa dalam perkawinan masyarakat Mandailing di Simpang Tolang, Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, serta menganalisis perbedaan pelaksanaannya dengan tradisi Mangupa-upa di daerah Panyabungan. Tradisi Mangupa-upa merupakan salah satu upacara adat Mandailing yang sarat makna simbolik, berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pasangan pengantin memperoleh keberkahan, keselamatan, dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan teori Fungsionalisme Struktural yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1979) yang menjelaskan proses perpindahan, adaptasi, dan transformasi unsur-unsur budaya dari satu kelompok masyarakat ke kelompok lain melalui interaksi sosial. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi non-partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, serta masyarakat setempat, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara tematik dengan tahapan reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Mangupa-upa terdiri atas dua tahap utama, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan meliputi penyiapan bahan-bahan simbolis seperti ayam panggang utuh, telur ayam, pulut ketan atau nasi kuning, sirih, dan talam atau pinggan kaca, sementara tahap pelaksanaan ditandai dengan pembacaan doa, pemberian nasihat oleh Mora, Kahanggi, Anak Boru, Hatobangon, Ninik Mamak, Kepala Jorong dan Ulama lalu kemudian makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan restu keluarga. Setiap unsur dalam Mangupa-upa memiliki makna filosofis, seperti pulut ketan atau nasi kuning melambangkan rezeki dan keberkahan, serta telur yang mencerminkan kesucian dan kesatuan hidup berumah tangga. Perbedaan utama dengan tradisi di Panyabungan terletak pada bahan makanan dan bentuk upacara, di mana masyarakat Simpang Tolang menggunakan pulut ketan atau nasi kuning sedangkan di Panyabungan memakai nasi putih. Tradisi ini memiliki fungsi sosial, religius, dan kultural yang kuat dalam mempererat hubungan antaranggota masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan identitas budaya Mandailing di tengah perubahan sosial yang terjadi.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs H Social Sciences > HM Sociology H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 69201 - Jurusan Sosiologi |
| Depositing User: | NELVIANA NELVIANA |
| Date Deposited: | 15 Dec 2025 07:11 |
| Last Modified: | 15 Dec 2025 07:11 |
| URI: | https://rama.unimal.ac.id/id/eprint/17325 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |




