SALSABILA, SHIFA (2026) MAKNA SIMBOLIK DALAM TRADISI NEMOKKAN MANTEN PADA UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA (Studi Kasus Desa Jaharun A, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara). S1 thesis, Universitas Malikussaleh.
|
Text
COVER SHIFA.pdf Download (235kB) |
|
|
Text
ABSTRAK SHIFA.pdf Download (429kB) |
|
|
Text
BAB I SHIFA.pdf Download (426kB) |
|
|
Text
DAPUS SHIFA.pdf Download (358kB) |
|
|
Text
Skripsi shifa salsabila setelah sidang fix.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) |
Abstract
Tradisi Nemokkan Manten merupakan bagian penting dari upacara pernikahan tradisional Jawa, yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa di Desa Jaharun A, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap upacara pernikahan tetapi juga mengandung berbagai simbol yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan rumah tangga dan hubungan sosial. Namun, perkembangan dan proses akulturasi budaya telah menyebabkan sebagian orang hanya mengamati prosesi ini sebagai tradisi tanpa memahami makna simbolisnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan implementasi dan makna simbolis yang terkandung dalam tradisi Nemokkan Manten pada upacara pernikahan tradisional Jawa di Desa Jaharun A. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari juru panggih (pemimpin), orang tua mempelai, mempelai, dan anggota masyarakat yang mengetahui dan pernah menyaksikan tradisi Nemokkan Manten. Data yang diperoleh dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Studi ini menggunakan teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer (1969) untuk memahami makna simbol yang muncul dalam setiap prosesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nemokkan Manten di Desa Jaharun A terdiri dari beberapa tahapan: balangan gantal (melempar sirih), tukar kembar mayang, wiji dadi, sinduran, dulangan (suapan), sungkeman, dan tepung tawar dan doa. Setiap tahapan memiliki makna simbolik yang berbeda. Balangan gantal melambangkan pertemuan dan penerimaan pengantin pria dan wanita, wiji dadi melambangkan tanggung jawab suami dan kesetiaan istri, sinduran melambangkan bimbingan orang tua dalam kehidupan pernikahan, dulangan melambangkan kebersamaan dan kerja sama antara pasangan, sungkeman melambangkan rasa hormat dan memohon berkah dari orang tua, sedangkan tepung tawar dan doa melambangkan harapan akan keselamatan, kebahagiaan, dan berkah dalam kehidupan pernikahan. Tradisi ini juga mewujudkan nilai-nilai tanggung jawab, harmoni, rasa hormat, dan harapan akan kehidupan keluarga yang sejahtera dan kekal.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs H Social Sciences > H Social Sciences (General) H Social Sciences > HM Sociology H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 69201 - Jurusan Sosiologi |
| Depositing User: | SHIFA SALSABILA |
| Date Deposited: | 07 Sep 2026 08:04 |
| Last Modified: | 07 Sep 2026 08:04 |
| URI: | https://rama.unimal.ac.id/id/eprint/22217 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |




