BURHANAN, FATIYATUN NASHIHAH (2026) KOLABORASI ANTAR AKTOR DALAM MENGATASI KEMISKINAN DI KECAMATAN PADANG HILIR KOTA TEBING TINGGI. S1 thesis, Universitas Malikussaleh.
|
Text
cover fatiya.pdf Download (140kB) |
|
|
Text
abstrak fatiya.pdf Download (549kB) |
|
|
Text
bab 1 fatiya.pdf Download (533kB) |
|
|
Text
dapus fatiya.pdf Download (483kB) |
|
|
Text
SKRIPSI FATIYA TERBARU (3).pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) |
Abstract
Permasalahan keterbatasan ekonomi dan kesejahteraan sosial di Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi, masih menjadi tantangan serius yang memerlukan penanganan kolaboratif lintas sektor. Program bantuan pangan berupa beras dari Perum BULOG yang disalurkan melalui Dinas Sosial Kota Tebing Tinggi menjadi instrumen strategis dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses kolaborasi antar aktor dalam menangani permasalahan kesejahteraan sosial serta mengidentifikasi hambatan yang muncul. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuh informan yang dipilih melalui purposive sampling dan accidental sampling, meliputi Kepala Bidang Jaminan Sosial, Seksi Jaminan Sosial, Aparatur Kelurahan, Pendamping Sosial, Akademisi, serta masyarakat penerima dan non-penerima bantuan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Teori Aktor James E. Anderson digunakan sebagai pisau analisis dengan tiga indikator: negosiasi, saling memberi dan menerima, serta kompromi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antar aktor telah dilaksanakan melalui ketiga tahapan tersebut, namun pelaksanaannya belum berjalan optimal secara substantif. Pada tahap negosiasi, komunikasi antar aktor masih bersifat situasional dan partisipasi masyarakat cenderung pasif. Pada tahap saling memberi dan menerima, pertukaran informasi antara data sistem pusat dan realitas lapangan terhambat oleh lambatnya respons birokrasi. Pada tahap kompromi, kesepakatan yang terbangun lebih didorong oleh kepatuhan prosedural daripada penyelesaian akar masalah ketidaksesuaian data, sehingga memicu persepsi ketidakadilan di masyarakat. Hambatan kolaborasi bersumber dari dua aspek utama, yaitu aspek institusi berupa pola kerja hierarkis dan lemahnya integrasi sistem pendataan, serta aspek kinerja organisasi berupa rendahnya responsivitas birokrasi, mentalitas sektoral, dan minimnya transparansi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi yang terbangun masih bersifat formalitas administratif, sehingga diperlukan reformasi institusi dan peningkatan kinerja organisasi agar penyaluran bantuan sosial berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > 63201 - Jurusan Administrasi Publik |
| Depositing User: | Fatiyatun Nashihah Burhanan |
| Date Deposited: | 10 Aug 2026 08:18 |
| Last Modified: | 10 Aug 2026 08:18 |
| URI: | https://rama.unimal.ac.id/id/eprint/21002 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |




